
Oleh
karena itu, peringatan Konferensi Asia Afrika yang ke-60 pada bulan April 2015 ini
diharapkan oleh Presiden ke 7 RI Ir. Joko Widodo dapat dimanfaatkan sebagai momentum untuk
memperkuat peran dan keberadaan Indonesia di kawasan Regional maupun kancah Internasional.
Presiden memerintahkan pada semua sektor penyelenggara negara agar kesempatan itu dijadikan sebagai awal membangunkan Sang Macan.
"Kita
akan mempersiapkan peringatan KTT 60 tahun Konferensi Asia Afrika yang kita
tahu ini momentum yang sangat baik bagi negara kita untuk kembali mengingatkan
pada dunia bahwa kita punya peran yang sangat besar dan kita ingin memori dan
ingatan itu diangkat kembali," kata Presiden saat membuka rapat terbatas
membahas persiapan acara tersebut di Kantor Presiden.
Presiden
Joko Widodo secara khusus menunjuk Kepala Staf Kepresidenan Luhut Pandjaitan untuk
memimpin persiapan peringatan konferensi yang menjadi tonggak berdirinya
Gerakan Non Blok yang dalam perjalanan sejarahnya, kemudian memberikan warna
pada konstelasi politik internasional dekade 1960an hingga 1990-an.
Panitia
mengundang 109 negara Asia Afrika serta 17 negara pengamat dan 20 organisasi
internasional untuk berpartisipasi dalam Forum nanti. Diharapkan kehadiran mereka dapat menjadikan momentum kebangkitan bangsa ini kedepannya.
Semua persiapan terus dilakukan oleh semua pihak menjelang acara yang akan menjadi salah satu
etalase Indonesia bagi negara-negara di kawasan Asia dan Afrika yang bisa
menunjukkan bagaimana Indonesia saat ini dan kerja sama apa yang bisa
dikembangkan yang tentunya saling menguntungkan.
Jakarta,
sebagai pusat ibu kota yang akan melangsungkan rangkaian konferensi baik di tingkat
menteri dan pejabat tinggi maupun tingkat kepala negara dan kepala pemerintahan
terus melakukan sejumlah pembenahan terkait masalah infrastruktur jalan,
akomodasi dan juga transportasi.
Dinas
Bina Marga DKI Jakarta fokus terhadap perbaikan jalan rusak dan berlubang di
sejumlah ruas jalan protokol terkait pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi
(KTT) Asia-Afrika pada 19 hingga 23 April 2015 di Jakarta dan Bandung.
Sementara
di Bandung, persiapan untuk acara memorial konferensi itu terus dimatangkan
termasuk pembenahan infrastruktur yang ada.
Ribuan poster wajah dua tokoh dunia, Soekarno dan Nelson
Mandela menghiasi kawasan Gedung Merdeka di Jalan Asia Afrika Kota Bandung yang
akan menjadi pusat kegiatan napak tilas Konferensi Asia Afrika ke-60 pada 24
April 2015.
Poster
wajah kedua bapak bangsa dari Indonesia dan Afrika Selatan itu dipasang
berjejer di sepanjang jalan utama di jantung Kota Kembang Bandung itu. Foto
poster keduanya dipasang bergandengan. Foto Ir. Soekarno yang merupakan Presiden
Pertama RI dipasang dengan latar merah dengan tulisan "Lahirlah Asia Afrika
Baru" sedangkan foto Nelson Mandela dengan latar warna hijau bertuliskan
"Tak Ada yang Mustahil".
Bangunkan
Macan Ketika julukan Macan Tertidur sudah melekat, maka tidak ada salahnya
untuk kembali membangunkan auman-nya. KAA 2015 mempunyai tujuan yang sangat
penting di berbagai bidang, mengingat Indonesia adalah negara pelopor
penyelenggara KAA.
Wakil
Menteri Luar Negeri RI A.M. Fachir mengatakan pertemuan dan peringatan 60 tahun
Konferensi Asia-Afrika (KAA) merupakan momentum yang baik bagi Pemerintah
Indonesia untuk melakukan diplomasi ekonomi terhadap negara-negara di kawasan
tersebut.
"Sejak
awal ketika kami diberi arahan oleh Presiden termasuk dalam rapat kerja,
dikatakan bahwa KAA adalah momentum. Momentum itu tidak perlu ditunggu, tetapi
harus diciptakan. KAA ini kita manfaatkan untuk diplomasi ekonomi
Indonesia," kata Wamenlu A.M. Fachir.
Menurut
dia, salah satu langkah diplomasi ekonomi dalam penyelenggaraan KAA adalah
melalui pemilihan tema "Memperkuat Kerja Sama Selatan-Selatan".
"Sebenarnya
kita melakukan pendekatan dengan dua cara pendekatan, salah satunya ’get real
business’, baik di bidang investasi, pembangunan, maupun perdagangan,"
ujar dia.
Terkait
upaya memperkuat fungsi diplomasi ekonomi, kata Fachir, Kelompok Kerja
Penguatan Diplomasi Ekonomi Kemlu RI sedang mencoba mengidentifikasi berbagai
isu dan perjanjian ekonomi yang masih tertunda atau terhambat realisasinya.
"Jadi,
sekarang kami mengejar para perwakilan kita di luar negeri untuk
menindaklanjuti berbagai ’pending issue’ dan merealisasikan MoU yang belum
ditindaklanjuti," lanjut Wamenlu.
Menurut
Fachir, yang juga adalah Ketua Nasional Pokja Penguatan Diplomasi Ekonomi,
pihaknya akan terus mengidentifikasi hambatan-hambatan yang menyebabkan
beberapa nota kesepahaman atau perjanjian yang telah dibuat tidak dapat
dilaksanakan.
Ketua
Harian Pokja Diplomasi Ekonomi Kemlu RI Ngurah Swajaya menyebutkan bahwa pokja
tersebut akan berkoordinasi dengan 132 perwakilan RI di luar negeri dalam
melaksanakan fungsi diplomasi ekonomi. Para perwakilan RI di luar negeri itu
terdiri dari kedutaan besar, konsulat jenderal, dan konsulat.
Pokja
Diplomasi Ekonomi ini bertugas membantu efektivitas dan efisiensi pelaksanaan
promosi perdagangan, pariwisata, dan investasi Indonesia di seluruh dunia.
"Dalam hal ini, kami juga mengidentifikasi hambatan dan tantangan yang ada
dalam suatu bidang usaha," lanjut dia.
Selain
konferensi itu sendiri, banyak agenda yang bisa dimanfaatkan Indonesia untuk
menjalin berbagai kerjasama dan menguatkan berbagai sektor khususnya ekonomi.
Salah
satunya adalah Pertemuan Bisnis Asia-Afrika atau Asia Africa Business Summit
yang merupakan bagian dari Konferensi Asia-Afrika, difokuskan untuk membahas
empat bidang ekonomi yaitu infrastruktur, perdagangan, agribisnis, kemaritiman,
dan kelautan.
"Asia
Africa Business Summit ini akan fokus pada empat bidang yang sejalan dengan
prioritas pemerintahan Indonesia yaitu infrastruktur, perdagangan di antara
negara-negara Asia Afrika, agribisnis, kemaritiman, dan kelautan," kata
Ketua Pelaksana AABS Noke Kiroyan.
Pertemuan
Bisnis Asia Afrika itu akan dilaksanakan di Jakarta pada 21-22 April 2015.
Pertemuan itu dilaksanakan atas kerja sama antara Kementerian Luar Negeri RI
dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia.
Menurut
Noke, pertemuan bisnis tersebut akan dihadiri 400 peserta yang terdiri dari 200
peserta asal Indonesia dan 200 peserta dari negara-negara Asia dan Afrika.
"Ada
beberapa kepala negara yang akan menjadi ’keynote speaker’ (pembicara kunci)
dalam acara ini. Ada baiknya kita dengar beberapa ’policy’ (kebijakan) dari
beberapa kepala negara terkait upaya memajukan ekonomi di negaranya," ujar
dia.
Ia
juga menyebutkan sejauh ini sudah ada dua kepala negara yang mengonfirmasi
kehadiran dan akan menjadi pembicara kunci dalam Pertemuan Bisnis Asia Afrika
itu, yaitu Presiden Afrika Selatan dan Presiden Ethiopia.
Pertemuan
Bisnis Asia Afrika 2015 itu, menurut dia, juga bertujuan membentuk "Asia
Africa Business Council" (Dewan Bisnis Asia Afrika) yang akan dimanfaatkan
sebagai media untuk meningkatkan hubungan bisnis di antara negara-negara Asia
dan Afrika.
Ini
salah satu cara membangunkan ’macan’ pada sektor bisnis.
Tidak
kalah penting dari semua ini adalah pencitraan negara harus diutamakan, karena
Indonesia akan didatangi oleh ribuan jurnalis dari berbagai negara-negara di
dunia. Ada kemungkinan jurnalis akan mengangkat sisi menarik dari Indonesia,
seperti masyarakat sosial, budaya, sejarah, hingga iklim politiknya. Oleh
karena itu, semua lini harus menampilkan hal terbaiknya.
Kementerian
Komunikasi dan Informatika menyatakan hingga saat ini ada sekitar 1.300 wartawan
dalam negeri dan luar negari yang telah mendaftarkan diri untuk meliput
Peringatan Konferensi Asia Afrika (KAA) Ke-60 di Jakarta dan Bandung.
"Sudah
dipastikan wartawan yang meliput, sampai saat ini yang sudah mendaftar ada
sekitar 1.300 orang. Itu wartawan dalam dan luar ngeri. Kapasitas di Jakarta
sendiri kan 1.000 orang," kata Menteri Komunikasi dan Informatika
Rudiantara.
Menurut
dia, sejumlah tempat di Kota Bandung akan dijadikan sebagai media center
Peringatan KAA Ke-60 nanti seperti Gedung Perusahaan Gas Negara (PGN) di Jalan
Braga.
"Tapi
nanti media center di Bandung akan kita pusatkan di Gedung New Majestic,"
kata dia.
Sementara
itu, Wali Kota Bandung M Ridwan Kamil menambahkan pihaknya akan berupaya
memberikan pelayanan optimal bagi wartawan asing yang akan meliput jalannya
Peringatan KAA Ke-60 di Kota Bandung.
"Sebelumnya
saya sendiri telah mengadakan rapat dengan Menteri Pariwisata. Rencananya akan
dibuatkan sebuah media centre di Gedung PGN yang di Jalan Braga Bandung sebagai
kesiapan profesional kepada teman-teman wartawan dalam dan luar negeri,"
katanya.
Dengan
segala persiapan dan tujuan yang membangun tersebut, tidak mustahil jika Sang
Macan akan kembali terdengar auman-nya paskaperingatan bersejarah tersebut. Sumber : kabar Indonesia
0 komentar